Berinteraksi dengan Al-Qur’an sejatinya adalah sebuah perjalanan spiritual yang melampaui batas-batas pelafalan teks semata. Menyadari kedalaman esensi tersebut, Yayasan Pendidikan Al-Madinah secara intensif mengikuti Sempena Milad ke-23 JSIT Indonesia TP2Q JSIT Indonesia Wilayah Kepulauan Riau bersama BP2Q JSIT Indonesia secara online . Yayasan Pendidikan Al-Madinah ikut serta dalam Pelatihan Metode Membaca Al-Qur’an “Ilman Wa Ruuhan” selama dua hari, yakni pada Sabtu dan Minggu, 1 – 2 Agustus 2026 sebagai peserta dan ikhtiar untuk implementasi pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan/metode ilman wa ruuhan yang merupakan produk dari JSIT Indonesia.
Kegiatan ini hadir sebagai sebuah terobosan fundamental dalam ekosistem pendidikan Al-Qur’an di lingkungan Yayasan Al-Madinah. Pelatihan ini tidak hanya mentransfer ilmu tajwid, melainkan membawa sebuah pesan moral yang sangat kuat bagi para pendidiknya.
Menyelaraskan Diri dengan Ruh Al-Qur’an
Selama dua hari pelaksanaan, para peserta diajak untuk mengubah paradigma lama. Pemateri memberikan penekanan yang sangat tegas bahwa berinteraksi dengan kitab suci bukan sekadar membaca untaian ayat, melainkan sebuah proses penyelarasan jiwa dengan ruh Al-Qur’an itu sendiri.
Pada aspek Ilman (keilmuan), peserta memang ditempa untuk menyempurnakan makharijul huruf dan ketepatan tajwid sebagai bentuk adab lisan kepada kalam Ilahi. Namun, titik berat keistimewaan pelatihan ini terletak pada aspek Ruuhan (spiritualitas). Peserta dibimbing untuk menghadirkan hati (hadhirul qalb) saat membaca, membiarkan makna setiap ayat meresap, menggetarkan dada, dan menjadi alarm spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan Ilman Wa Ruuhan mengajarkan bahwa kelancaran lisan harus berjalan beriringan dengan kelembutan hati. Al-Qur’an harus dibaca dengan jiwa, sehingga yang terdengar bukan hanya suara yang merdu, tetapi juga getaran ketakwaan yang tulus.
Sesungguhnya Pembelajaran Al-Qur’an bukan sekadar memindahkan ilmu dari guru kepada peserta didik. lebih dari itu, ia adalah ikhtiar menghadirkan hidayah Allah ke dalam hati, lisan, dan perilaku.
Melalui Metode ‘ilman wa Ruuhan, kita tidak hanya membimbing mereka agar fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga menumbuhkan pribadi Qur’ani yang santun dan memiliki adab karena dekat dengan Rabb-nya.\
Muara Tujuan : Lahirnya Generasi Berkarakter Qur’ani
Penyelarasan dengan ruh Al-Qur’an inilah yang menjadi kunci utama dalam dunia pendidikan Islam. Guru yang membaca dan mengajarkan Al-Qur’an dengan melibatkan jiwanya, akan mampu menyentuh jiwa para muridnya.
Tujuan akhir dari pelatihan ini sangatlah visioner. Dengan menguasai metode Ilman Wa Ruuhan, para pendidik diharapkan mampu mentransfer “ruh” tersebut ke dalam ruang-ruang kelas. Ketika Al-Qur’an tidak lagi dipandang sekadar sebagai mata pelajaran atau kewajiban membaca, maka pada titik itulah akan lahir generasi berkarakter Qur’ani—generasi yang cara berpikir, bertutur kata, dan bersikapnya merupakan pantulan langsung dari nilai-nilai luhur Al-Qur’an.
Pelatihan ini menjadi bukti nyata komitmen Yayasan Pendidikan Al-Madinah untuk tidak pernah berhenti meningkatkan kualitas spiritual para tenaga pendidiknya. Semoga melalui lisan-lisan yang telah tersentuh ruh Al-Qur’an ini, lahir peradaban Islam yang cerdas, beradab, dan mencerahkan.
Teruslah membumikan Al-Qur’an dengan segenap ilmu dan jiwa. Al-Madinah… Brilliant!

































