Antusiasme dan semangat belajar para peserta tampak semakin menyala pada hari kedua pelaksanaan Upgrading Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Yayasan Pendidikan Al-Madinah Kepulauan Riau, Selasa, 7 Juli 2026.
Jika pada hari pertama para peserta difokuskan pada penguatan identitas sebagai guru Sekolah Islam Terpadu (SIT) dan pilar budaya, maka pada hari kedua ini, materi diarahkan pada penguatan fondasi kerja sama tim dan kedisiplinan operasional di lingkungan sekolah. Dua pemateri andal dihadirkan untuk menuntaskan rangkaian pembinaan krusial ini.
Sesi Pertama : Merajut Kekuatan Melalui Amal Jama’i
Membuka agenda hari kedua, forum diisi oleh Bapak Zulkarnain Simbolon, S.H.I., M.Pd. yang membawakan materi sarat makna bertajuk “Amal Jama’i sebagai Fondasi Kerja”.
Dalam pemaparannya, Bapak Zulkarnain menekankan bahwa mengelola sebuah institusi pendidikan Islam tidak bisa mengandalkan kecerdasan individual semata (kerja sendiri-sendiri). Kesuksesan visi sekolah hanya bisa dicapai melalui Amal Jama’i, yaitu kerja kolektif yang dilandasi oleh ukhuwah, rasa saling percaya, dan keselarasan tujuan.
Beliau mengingatkan seluruh elemen GTK bahwa di Al-Madinah, setiap peran memiliki nilai yang sama pentingnya di mata Allah SWT. Sinergi antara pimpinan, guru kelas, guru mata pelajaran, hingga staf kependidikan adalah sebuah keharusan. Ketika Amal Jama’i telah mengakar kuat sebagai fondasi kerja, seberat apa pun tantangan pendidikan ke depan akan terasa ringan untuk diselesaikan bersama.
Sesi Kedua : Menciptakan Lingkungan Kondusif dengan Budaya 5R
Beralih dari aspek penguatan mental dan spiritual tim, sesi kedua difokuskan pada kedisiplinan dan kenyamanan fisik lingkungan kerja. Pemateri kedua, Bapak Muhammad Hidayatullah, S.Pi., hadir mengupas tuntas tentang “Membangun Budaya 5R di Sekolah”.
Bapak Hidayatullah menjabarkan urgensi Pemetaan Prinsip 5R & Syariat Islam, yaitu:
-
Ringkas ( Menjauhi Tabdzir (Mubazir) ): Menyingkirkan/mendonasikan barang tak terpakai. “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara syaitan” (QS. Al-Isra: 27).
-
Rapi ( Nidhom (Keteraturan) ) : Islam sangat mencintai keteraturan (tercermin dari shaf shalat). Menaruh alat pada tempatnya adalah wujud kedisiplinan.
-
Resik ( Thaharah (Kesucian) ) : Area belajar yang bersih terbebas dari najis. Lingkungan yang suci mengundang ketenangan hati.
-
Rawat ( Istiqomah (Konsistensi) ) : Menetapkan standar agar kebaikan tidak terputus. Allah sangat mencintai amalan baik yang dilakukan secara konsisten.
-
Rajin ( Mujahadah & Akhlak ): Membiasakan diri (melawan rasa malas) hingga 5R terbentuk menjadi Akhlakul Karimah tanpa perlu diawasi.
Budaya 5R ini dipaparkan bukan sekadar sebagai teori, melainkan instruksi operasional yang wajib dieksekusi. Lingkungan sekolah yang bersih, rapi, dan teratur tidak hanya meningkatkan kenyamanan dan keselamatan siswa, tetapi juga merepresentasikan profesionalisme institusi di mata wali murid dan masyarakat.
Penutup Rangkaian Upgrading
Berakhirnya materi Budaya 5R sekaligus menutup rangkaian kegiatan Upgrading GTK Yayasan Pendidikan Al-Madinah Kepulauan Riau tahun 2026. Perpaduan materi selama dua hari ini dinilai sangat komprehensif; menyentuh aspek spiritual (niat dan amal jama’i), identitas pendidikan (karakter guru SIT), hingga aspek operasional (Budaya 5R).
Dengan bekal yang telah disegarkan kembali ini, seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan kini siap menyambut kedatangan peserta didik pada tahun ajaran baru 2026/2027 dengan sinergi yang lebih kuat dan kedisiplinan yang lebih baik.
Yayasan Al-Madinah… Brilliant!

































